Hari Jadi ke-500 Kota Banjarmasin: Menyusuri Jejak Sejarah 5 Abad Banjarmasin


INSPIRASI9.COM-BANJARMASIN , Lima abad bukan sekadar angka. Pada 24 September 2026, Kota Banjarmasin genap memasuki usia 500 tahun, menandai perjalanan panjang sebuah kota yang tumbuh dari perkampungan Banjarmasih di tepian sungai hingga berkembang menjadi salah satu pusat kehidupan ekonomi, perdagangan, pemerintahan dan kebudayaan di Kalimantan Selatan.

Hari Jadi Kota Banjarmasin merujuk pada 24 September 1526. Pemerintah Kota Banjarmasin mencatat tanggal tersebut sebagai tonggak sejarah Banjarmasin, ketika Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah.

Momentum setengah milenium ini hadir dalam suasana yang berbeda. Pemerintah Kota Banjarmasin pada 16 September 2026 memutuskan meniadakan kegiatan perayaan yang bersifat hiburan dan kemeriahan. Keputusan itu dikaitkan dengan kondisi yang sedang dihadapi masyarakat, antara lain karhutla, gangguan kualitas udara, kekeringan dan persoalan air bersih, serta musibah tenggelamnya Virgo Transport 8.

Dengan demikian, Hari Jadi ke-500 Banjarmasin tahun ini tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah, tetapi juga ruang untuk melihat kembali perjalanan kota dan tantangan yang dihadapi masyarakatnya.

Dari Banjarmasih Menuju Banjarmasin

Sejarah resmi Pemerintah Kota Banjarmasin menyebut awal perkembangan kota berhubungan dengan perkampungan bernama Banjarmasih, yang dipimpin kepala kampung bergelar Patih Masih.

Nama Banjarmasih kemudian berkembang menjadi Bandarmasih dan selanjutnya Banjarmasin. Kawasan ini memiliki hubungan erat dengan keberadaan sungai yang sejak dahulu menjadi jalur transportasi, perdagangan sekaligus ruang kehidupan masyarakat.

Pada 24 September 1526, Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Banjarmasin.

Catatan akademik Universitas Lambung Mangkurat juga menempatkan 24 September 1526 sebagai tahun berdirinya Kerajaan Banjar. ULM mencatat perjalanan kerajaan tersebut berlangsung hingga penghapusannya oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1860.

Namun, sejarah Banjar tidak sepenuhnya memiliki satu versi kronologi. Kajian BRIN menunjukkan adanya perbedaan kronologi dalam sejumlah sumber sejarah Kesultanan Banjar. Tahun 1526 sendiri merupakan tahun yang dalam penelitian Idwar Saleh digunakan sebagai dasar penetapan berdirinya Kesultanan Banjar dan kemudian banyak dirujuk dalam historiografi Banjar.

Karena itu, angka 1526 dalam konteks Hari Jadi Banjarmasin perlu dipahami sebagai tonggak sejarah yang digunakan Pemerintah Kota dan telah menjadi bagian dari identitas resmi kota.

Sungai dan Identitas Banjarmasin

Jika ada satu unsur yang hampir selalu melekat pada perjalanan Banjarmasin, jawabannya adalah sungai.

Kota ini berkembang di kawasan yang memiliki jaringan sungai dan anak sungai. Aktivitas perdagangan, mobilitas warga dan perkembangan permukiman sejak lama memiliki keterkaitan dengan jalur air.

Karakter tersebut kemudian membentuk identitas Banjarmasin sebagai kota yang kehidupan masyarakatnya tidak dapat dipisahkan dari sungai.

Jejak sejarah itu masih dapat dilihat di kawasan Kuin, tempat sejumlah peninggalan sejarah Kesultanan Banjar berada.

Salah satunya adalah Masjid Sultan Suriansyah, yang tercatat sebagai cagar budaya peringkat nasional berdasarkan SK Nomor PM.27/PW.007/MKP/2008.

Keberadaan situs-situs sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan Banjarmasin hari ini memiliki hubungan panjang dengan sejarah kawasan sungai dan Kesultanan Banjar.

Timeline Banjarmasin 1526–2026

1526 — Banjarmasih dan Sultan Suriansyah
24 September 1526 ditetapkan sebagai tonggak Hari Jadi Kota Banjarmasin. Pada tanggal tersebut Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah.

1550–1570 — Masa Sultan Rahmatullah
Setelah Sultan Suriansyah, pemerintahan dilanjutkan Sultan Rahmatullah sebagai raja kedua menurut sejarah resmi Pemko Banjarmasin.

1570–1620 — Masa Sultan Hidayatullah dan perkembangan kerajaan
Periode ini menjadi bagian dari perjalanan awal pemerintahan Kesultanan Banjar.

1612 — Banjar Lama di Kuin dihancurkan Belanda
Pemerintah Kota Banjarmasin mencatat serangan Belanda pada 1612 yang menyebabkan pusat pemerintahan kerajaan berpindah dari Banjarmasin ke Martapura.

Abad ke-17 — Perdagangan lada berkembang
Kajian Universitas Lambung Mangkurat mencatat perdagangan lada menjadi salah satu komoditas penting dalam perkembangan ekonomi Kerajaan Banjar pada periode tersebut.

1860 — Kesultanan Banjar dihapus pemerintah kolonial Belanda
Perjalanan Kesultanan Banjar berakhir setelah pemerintah kolonial Belanda menghapus kerajaan tersebut pada November 1860.

2008 — Masjid Sultan Suriansyah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional
Masjid Sultan Suriansyah di Banjarmasin ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional berdasarkan keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

2026 — Banjarmasin memasuki usia 500 tahun
24 September 2026 menjadi momentum 500 tahun Hari Jadi Kota Banjarmasin. Pemerintah Kota sebelumnya menyiapkan rangkaian peringatan, namun pada September 2026 kegiatan hiburan dan kemeriahan resmi ditiadakan dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat.

5 Fakta Penting Banjarmasin 500 Tahun

1. Hari Jadi Banjarmasin berakar pada 24 September 1526

Pemerintah Kota Banjarmasin menetapkan 24 September 1526 sebagai Hari Jadi Kota Banjarmasin. Tonggak tersebut berkaitan dengan Pangeran Samudera yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah.

2. Nama awalnya adalah Banjarmasih

Banjarmasih disebut sebagai nama perkampungan yang menjadi bagian penting dari sejarah awal Banjarmasin. Pemerintah Kota menjelaskan nama tersebut berkaitan dengan komunitas Melayu atau "Oloh Masih" dan tokoh Patih Masih.

3. Sungai merupakan bagian dari sejarah perkembangan kota

Perjalanan Banjarmasin tidak dapat dipisahkan dari jaringan sungai yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan perkembangan perdagangan.

Karakter tersebut kemudian menjadi salah satu dasar kuat identitas Banjarmasin sebagai kota sungai.

4. Banjarmasin memiliki peninggalan sejarah Kesultanan Banjar

Masjid Sultan Suriansyah di kawasan Kuin menjadi salah satu peninggalan penting yang menghubungkan Banjarmasin masa kini dengan sejarah Kesultanan Banjar. Bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat nasional.

5. 500 tahun Banjarmasin diperingati dalam suasana berbeda

Peringatan 500 tahun pada 2026 tidak diisi dengan kegiatan hiburan dan kemeriahan seperti rencana awal. Pemko Banjarmasin memutuskan meniadakannya dengan mempertimbangkan sejumlah kondisi yang sedang dihadapi masyarakat.

Sementara itu, agenda apel dan ziarah makam Sultan Suriansyah tetap dipersiapkan sebagai bagian dari momentum Hari Jadi ke-500 pada 24 September 2026.

Lima Abad dan Pertanyaan tentang Masa Depan

Memasuki usia 500 tahun, Banjarmasin tidak hanya berhadapan dengan pertanyaan tentang bagaimana sejarahnya dikenang, tetapi juga bagaimana masa depan kota dibangun.

Kota yang tumbuh dari lingkungan sungai kini menghadapi tantangan perkotaan yang jauh lebih kompleks. Persoalan lingkungan, kualitas air, pengelolaan sungai, kebutuhan infrastruktur, mobilitas masyarakat serta tekanan perubahan iklim menjadi bagian dari dinamika kota modern.

Di sisi lain, warisan sejarah dan budaya tetap menjadi modal penting.

Kawasan sungai, peninggalan Kesultanan Banjar, tradisi masyarakat dan kehidupan ekonomi yang tumbuh di sekitar sungai merupakan bagian dari identitas yang membedakan Banjarmasin dari kota-kota lainnya.

Karena itu, usia 500 tahun dapat menjadi momentum untuk melihat sejarah bukan hanya sebagai catatan masa lalu, tetapi sebagai pijakan dalam menentukan arah perjalanan berikutnya.

500 Tahun Bukan Sekadar Perayaan

Banjarmasin telah melewati perjalanan panjang sejak Banjarmasih dikenal sebagai sebuah perkampungan pada 1526.

Lima abad kemudian, kota ini telah berubah menjadi kawasan perkotaan dengan dinamika kehidupan yang jauh lebih kompleks.

Namun, di tengah perubahan tersebut, jejak masa lalu masih dapat ditemukan—di sungai, kawasan Kuin, masjid bersejarah, tradisi masyarakat hingga nama-nama tempat yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.


Hari Jadi ke-500 pada akhirnya bukan hanya tentang kemeriahan.

Ia menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat perjalanan yang telah dilalui, sekaligus merefleksikan bagaimana Banjarmasin akan menjaga identitasnya dan menghadapi tantangan pada masa mendatang.

Dari Banjarmasih 1526 menuju Banjarmasin 2026, lima abad telah berlalu.

Perjalanan itu belum selesai.


Redaksi Inspirasi9.com diolah dari berbagai sumber

Ikuti Inspirasi9
Update berita Kalsel di Instagram

Video, breaking news, dan informasi terbaru Banua melalui Instagram Inspirasi Sembilan.

Follow Instagram

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama