INSPIRASI9.COM-BANJARMASIN, Perguruan tinggi di Kalimantan Selatan didorong memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk membantu menangani berbagai persoalan masyarakat, termasuk dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus menjaga keberlangsungan pendidikan.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Silaturahmi Kamtibmas Forkopimda Provinsi Kalimantan Selatan bersama pimpinan perguruan tinggi se-Kalimantan Selatan di Kindai Hotel Banjarmasin, Senin (26/10/2026).
Kegiatan ini dihadiri Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin, Kapolda Kalsel Irjen Pol. Rosyanto Yudha Hermawan, unsur TNI, serta para rektor perguruan tinggi di Kalimantan Selatan.
Dalam pertemuan tersebut, Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Iwan Alfanie, menggagas pembentukan forum rektor sebagai wadah kolaborasi untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Banua.
Salah satu gagasan yang disampaikan ialah mengaktifkan *crisis center* dengan melibatkan berbagai perguruan tinggi. Upaya ini diharapkan menjadi ruang koordinasi untuk merespons situasi krisis, termasuk bencana alam dan persoalan lingkungan.
“Kita menggagas bagaimana mengaktifkan kembali *crisis center* dengan melibatkan perguruan tinggi lainnya. Kita tidak bisa bekerja sendiri, sehingga diperlukan kolaborasi dan sinergi untuk bersama-sama mengatasi berbagai persoalan yang terjadi di Banua,” ujar Iwan.
Menurutnya, pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 dan bencana banjir menunjukkan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam merespons kondisi darurat. Karena itu, keterlibatan perguruan tinggi diperlukan agar penanganan persoalan masyarakat dapat didukung oleh pengetahuan, keahlian, dan sumber daya akademik.
Selain mendorong kolaborasi dalam penanganan krisis, Iwan menyoroti dampak karhutla terhadap keberlangsungan pendidikan. Menurutnya, perguruan tinggi perlu memastikan kegiatan perkuliahan tetap berjalan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan keselamatan mahasiswa maupun tenaga pengajar.
“Dampak karhutla ini menjadi perhatian kita bersama. Pendidikan harus tetap berjalan, baik melalui tatap muka, daring, maupun hibrida, dengan menyesuaikan kondisi di lapangan. Kita harus memastikan mahasiswa tetap mendapatkan haknya untuk belajar,” ungkapnya.
Penyesuaian metode pembelajaran dinilai menjadi salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan ketika kondisi kabut asap mengganggu aktivitas masyarakat. Pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan situasi di masing-masing wilayah dan ketentuan yang berlaku.
Iwan juga menilai perguruan tinggi memiliki peran dalam membantu masyarakat memahami persoalan karhutla serta mendorong pencarian solusi berdasarkan kajian dan pengetahuan akademik.
Ia mengajak semua pihak melihat persoalan tersebut secara jernih dengan mengutamakan langkah nyata untuk membantu masyarakat menghadapi dampak bencana.
“Kita perlu melihat persoalan ini secara jernih. Pemerintah sudah berupaya menangani karhutla, dan yang perlu kita dorong bersama adalah bagaimana mencari jalan keluar untuk membantu masyarakat menghadapi dampak bencana ekologis ini,” katanya.
Sebagai bagian dari gagasan penguatan respons terhadap kondisi darurat, *crisis center* juga diarahkan untuk menyiapkan rumah oksigen sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat yang terdampak kabut asap.
Rencana tersebut diharapkan dapat dibahas dan dikembangkan melalui koordinasi antara perguruan tinggi, pemerintah, serta pihak terkait lainnya, dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan dukungan yang tersedia.
Iwan menegaskan bahwa penanganan persoalan masyarakat, termasuk yang berkaitan dengan dampak karhutla, membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Dalam konteks pendidikan, ia juga menekankan pentingnya mendengarkan aspirasi mahasiswa.
“Ada tiga prinsip yang harus kita pegang, yaitu mahasiswa perlu didengar, perlu dilayani, dan perlu dilibatkan. Dengan begitu, persoalan yang mereka hadapi bisa dipahami dan dicarikan solusi bersama,” jelasnya.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya menjadi pihak yang menerima kebijakan, tetapi juga perlu memperoleh ruang untuk menyampaikan aspirasi dan berkontribusi dalam mencari jalan keluar atas persoalan yang terjadi di masyarakat.
Gagasan forum rektor dan *crisis center* diharapkan dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan elemen masyarakat lainnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada koordinasi, tetapi juga berkembang menjadi langkah nyata yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, baik dalam menghadapi bencana maupun mendukung keberlangsungan pendidikan.
“Yang kita perlukan sekarang adalah kebersamaan untuk membantu masyarakat keluar dari musibah ini. Perguruan tinggi, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat harus saling mendukung agar solusi yang dihasilkan benar-benar memberikan manfaat,” pungkasnya.
Melalui silaturahmi ini, komunikasi antara Forkopimda dan perguruan tinggi diharapkan semakin kuat dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif, sekaligus mendorong pendidikan yang unggul dan berkontribusi terhadap pembangunan Kalimantan Selatan. Ins-1