INSPIRASI9.COM–BARITO KUALA, Fasilitas sarana dan prasarana kesehatan yang memadai menjadi fondasi utama dalam menghadirkan pelayanan publik yang optimal bagi masyarakat. Ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) medis yang kompeten, kelengkapan obat-obatan, hingga kualitas pelayanan yang ramah dan cepat sangat menentukan tingkat kenyamanan serta kesembuhan pasien.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Kalsel, Jihan Hanifha, menegaskan pentingnya kesiapan fasilitas kesehatan primer dalam menghadapi dampak kebiasaan musiman daerah.
Di sisi lain, beliau mengingatkan agar fokus penanganan bencana lingkungan tidak sampai mengalihkan perhatian dari program prioritas kesehatan masyarakat lainnya, khususnya intervensi gizi.
beliau juga menemukan adanya kendala operasional terkait regulasi ketersediaan obat-obatan primer yang belum sepenuhnya memadai untuk kebutuhan riil di lapangan.
“penurunan stunting jangan sampai terabaikan meski kita sedang berhadapan dengan penanganan dampak bencana asap. Dan juga, kami mendapatkan informasi adanya keterbatasan stok obat-obatan yang termasuk dalam Formularium Nasional (Fornas), karena ternyata kebutuhan di lapangan kerap berada di luar daftar Fornas itu sendiri,” pungkasnya saat monitoring ke Puskesmas Mandastana pada Jumat (4/7) Pagi.
Menanggapi temuan kendala pasokan medis tersebut, beliau berkomitmen membawa aspirasi daerah ke tingkat pemerintah pusat agar mendapatkan evaluasi dan penyesuaian regulasi. Langkah ini diharapkan mampu memberikan solusi jangka panjang bagi pemenuhan fasilitas kesehatan di tingkat daerah
“kami akan berkonsultasi ke Kemenkes, mengenai jenis obat apa saja yang masih kurang ketersediaannya, mengingat regulasi ini dievaluasi secara berkala. Semoga hal tersebut bisa kita alokasikan nanti melalui DAK atau anggaran pusat,” tutur Politisi Gerindra itu.
Membalas lperhatian tersebut, Kepala Puskesmas Mandastana, dr. Rusdiani, menyampaikan apresiasi sekaligus membeberkan kondisi riil pelayanan di wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah membentuk tim kesehatan khusus untuk menanggulangi dampak karhutla, di mana tercatat sebanyak 200 kasus ISPA sejak awal Agustus hingga saat ini berhasil ditangani dengan baik tanpa perlu rujukan ke rumah sakit.
Selain fokus pada ISPA, dr. Rusdiani menambahkan bahwa angka stunting di wilayahnya berhasil ditekan hingga mencapai 7 persen berkat strategi jemput bola menyambangi desa-desa bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan di Kecamatan (Forkopimcam).
Kunjungan ini juga didampingi oleh perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan serta Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Kuala. Ins-5