INSPIRASI9. COM, BANJARMASIN –Dinamika pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihadapkan pada tekanan global, namun tetap menunjukkan pertumbuhan dari sisi jumlah investor dan penguatan struktur pasar.
Seperti disampaikan Kepala Perwakilan BEI Kalimantan Selatan, Yuniar, di acara Workshop BEI bersama Media di Bon Cafe Duta Mall Banjarmasin,Rabu (29/4/2026).
Yuniar mengatakan jumlah investor di BEI hingga April 2026 telah menembus angka 26,12 juta dengan total 957 perusahaan tercatat di bursa saham.
“Kekuatan ini didominasi oleh investor di bawah usia 30 tahun, sebagai pondasi kokoh bagi pasar modal Indonesia dalam 5 hingga 10 tahun ke depan,” kata Yuniar, Rabu (29/4/2026).
Menurut Yuniar, pergerakan pasar saham di tahun 2026 tergolong luar biasa dinamis dan penuh tantangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan cukup besar sejak awal tahun 2026.
“Tahun 2026 ini sungguh luar biasa gerakannya, jadi kita dapat banyak ilmu baru. Beberapa saham dengan market yang besar pun harganya balik ke harga ketika COVID-19,” sebut Yuniar.
Menurut Yuniar, selama lima tahun terakhir, pasar modal Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan, terutama dari sisi jumlah investor yang melonjak drastis.
Tercatat, hingga April 2026, jumlah investor telah mencapai lebih dari 26 juta, meningkat tajam dibandingkan sekitar 3,9 juta pada 2015.
Pertumbuhan ini didominasi oleh investor ritel, khususnya generasi muda yang kini menjadi motor utama aktivitas pasar.
Namun demikian, kondisi pasar pada tahun 2026 menghadapi tantangan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan seiring tekanan eksternal, termasuk meningkatnya tensi geopolitik global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta aksi jual investor asing sejak awal tahun.
Faktor seperti konflik geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian ekonomi global turut memicu volatilitas di pasar keuangan.
BEI juga mencatat, arus modal asing cenderung keluar (net sell) baik di pasar saham maupun obligasi sepanjang tahun berjalan.
Hal ini turut memberikan tekanan terhadap kinerja IHSG yang sempat mencapai rekor tertinggi di awal tahun, namun kemudian terkoreksi ke level yang lebih rendah.
Di sisi lain, kinerja emiten pada tahun 2025 masih tergolong solid dengan mayoritas perusahaan mencatatkan laba yang lebih baik dibandingkan masa pandemi.
Meski demikian, jumlah penawaran umum perdana saham (IPO) pada 2026 mengalami penurunan akibat pengetatan kualitas emiten dan pertimbangan waktu pasar (market timing).
Dari sisi sektor, beberapa sektor seperti consumer non-cyclical dan basic materials dinilai masih relatif kuat dan defensif, sementara sektor properti dan teknologi menghadapi tekanan akibat kondisi makroekonomi dan suku bunga yang tinggi.
Dalam rangka memperkuat pasar modal, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan KSEI telah menyelesaikan reformasi transparansi pasar.
Reformasi tersebut mencakup peningkatan batas minimum free float menjadi 15 persen, penguatan keterbukaan informasi pemegang saham, serta klasifikasi investor yang lebih granular.
Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global.
Selain itu, BEI juga tengah mengembangkan inovasi produk, salah satunya Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas yang akan segera diluncurkan.
Produk ini diharapkan dapat menjadi alternatif investasi baru yang menarik, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam ekosistem emas global.
BEI juga mencatat perkembangan positif pada perdagangan karbon melalui IDX Carbon, yang sejak diluncurkan pada 2023 telah mencatat volume transaksi hampir 2 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp93 triliun.
"Ke depan, BEI optimistis pasar modal Indonesia tetap memiliki prospek positif, didukung oleh pertumbuhan investor domestik, penguatan regulasi, serta inovasi produk investasi. Meski dihadapkan pada tantangan global, fundamental pasar dinilai masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan jangka panjang,"pungkas Yuniar.
INS - msr